KabarMalaysia.Com
No Result
View All Result
Rabu, Desember 11, 2024
  • Login
  • Home
  • Global
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Komunitas
Subscribe
KabarMalaysia.Com
No Result
View All Result

Tertarik Gabung BRICS, Malaysia ingin Masa Depan seperti China

Writer: Rilis | Editor: Geraldi Nugroho

7 November 2024
in Ekonomi, Global
A A
Int

Int

KabarMalaysia.com – BRICS (Brazil, Russia, India, China, and South Africa), kelompok ekonomi yang didirikan pada tahun 2009, kini menghadapi perubahan besar setelah penambahan lima anggota baru pada Agustus lalu: Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Hal ini mengubah dinamika dan mendorong pertanyaan tentang apakah grup yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, dan negara-negara baru ini perlu nama baru.

Sejak perluasan terakhirnya, lebih dari 30 negara dilaporkan tertarik untuk bergabung, termasuk Malaysia dan Thailand, yang telah mengajukan aplikasi resmi.

Jangan Lewatkan

No Content Available

Malaysia, di bawah pimpinan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, menunjukkan keinginan kuat untuk bergabung dengan BRICS.

Malaysia melihat keuntungan signifikan dalam bergabung dengan blok yang lebih besar ini, yang sudah memiliki pengaruh besar dalam ekonomi global. “Bergabung dengan BRICS dapat membantu Malaysia mendapatkan lebih banyak investasi dan memperkuat hubungan dengan negara-negara seperti China dan India,” ujar Anwar. (05/11/2024)

Thailand juga mengajukan aplikasi, melihat kesempatan untuk menghidupkan kembali ekonominya yang baru-baru ini terhambat oleh pandemi COVID-19.

Malaysia dan Thailand melihat BRICS sebagai platform strategis untuk meningkatkan perekonomian mereka.

China adalah mitra dagang terbesar bagi kedua negara ini, dan hubungan yang lebih dekat dengan China serta India dapat memberikan manfaat besar, terutama bagi industri semikonduktor Malaysia yang sangat bergantung pada kedua pasar ini.

Keanggotaan BRICS juga berpotensi membuka pintu bagi peningkatan pariwisata, khususnya dari China dan India, yang merupakan sumber utama wisatawan ke Asia Tenggara.

Thailand, yang perekonomiannya sedang lesu setelah dampak pandemi, berharap BRICS bisa memberikan stimulus yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Terutama setelah industri pariwisata negara itu belum sepenuhnya pulih.

BRICS awalnya dibentuk oleh negara-negara dengan ekonomi berkembang yang besar, dan sejak pembentukannya, kelompok ini berusaha untuk mewakili negara-negara Global South—ekonomi berkembang pascakolonial yang merasa terpinggirkan dalam sistem ekonomi global yang didominasi oleh Barat.

Argumen ini semakin kuat pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, yang memicu ketegangan geopolitik dan menunjukkan peran dominan AS dalam sistem ekonomi global. Sebagai respons, BRICS semakin memposisikan dirinya sebagai alternatif terhadap dominasi ekonomi Barat.

BRICS, meskipun terus berkembang, belum memiliki perjanjian formal mengenai perdagangan atau investasi antar anggotanya.

China dan India, meskipun menjadi dua ekonomi terbesar dalam kelompok ini, memiliki ketegangan tersendiri, terutama pasca-konflik perbatasan pada 2020. Ketegangan ini dapat menghambat potensi kolaborasi di dalam blok tersebut.

Namun, bagi negara-negara seperti Malaysia dan Thailand, BRICS menawarkan peluang untuk menyeimbangkan hubungan mereka dengan kekuatan besar dunia seperti AS dan China.

Keanggotaan BRICS dapat memberikan perlindungan politik dan ekonomi di tengah ketegangan global yang semakin meningkat, terutama dalam konteks persaingan antara Washington dan Beijing.

Selain itu, tantangan lainnya adalah keanggotaan negara-negara yang dikenakan sanksi internasional seperti Rusia dan Iran, yang dapat mempengaruhi stabilitas dan keberlanjutan hubungan perdagangan.

UEA, misalnya, yang memiliki kemitraan kuat dengan AS, baru-baru ini harus menavigasi tekanan AS untuk memutus hubungan teknologi dengan China.

Meskipun BRICS telah berkembang pesat, tidak ada jaminan bahwa kelompok ini akan berhasil mencapai tujuannya. Persaingan antar anggota, terutama antara China dan India, serta ketidakpastian politik dari negara-negara yang baru bergabung, menjadi tantangan tersendiri.

Namun, bagi negara-negara seperti Malaysia dan Thailand, keuntungan ekonomi dari keanggotaan BRICS—seperti akses pasar yang lebih besar dan peluang investasi—mungkin dianggap lebih penting daripada tantangan geopolitik.

Dengan perluasan yang terus berkembang dan meningkatnya ketertarikan negara-negara lainnya untuk bergabung, masa depan BRICS sangat bergantung pada kemampuan kelompok ini untuk menyatukan kepentingan ekonomi yang berbeda-beda dan membentuk kerjasama yang lebih formal.

Tags: BRICSGlobal EconomicGlobal SouthMalaysia Ingin Bergabung BRICS
Share61Tweet38SendShareShare
Previous Post

Malaysia Desak PBB Keluarkan Israel dari Keanggotaan

Next Post

Tim Cahill Dikabarkan Akan Menjadi Pelatih Timnas Malaysia

Related Posts

No Content Available
  • Trending
  • Comments
  • Latest
DOC: KAMIL KRZACZYNSKI dan Mandel NGAN/AFP

Donald Trump Menang Pilpres AS 2024, Kamala Harris Gagal Jadi Presiden Perempuan Pertama AS

6 November 2024
Foto: ANTARA/Aswaddy Hamid

Pekerja Migran Indonesia Dideportasi dari Malaysia, Kondisi Kesehatan Memprihatinkan

23 Oktober 2024
Int

Update Hasil Pilpres Amerika 2024: Donald Trump VS Kamala Harris

6 November 2024
Ilustrasi kerjasama Malaysia dan Singapura

Malaysia dan Singapura Teken Kesepakatan Bangun KEK di Johor

13 Januari 2024
Ilustrasi COVID-19

Kasus COVID-19 Malaysia Meningkat Hingga 75 Persen

Kuala Lumpur masa lalu (Istimewa)

Potret Kuala Lumpur Masa Lalu Pusat Pemerintahan Malaysia

Gunung Kinabalu Malaysia (Istimewa)

49 Pendaki di Gunung Kinabalu Malaysia Dievakuasi

Malaysia Negara Nomor 1 Penyumbang Wisman di Indonesia

Malaysia Negara Nomor 1 Penyumbang Wisman di Indonesia

Pertemuan Tinjauan Paska Implementasi dengan Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM) di Kuala Lumpur, Malaysia. DOC: (ANTARA/HO-HUMASKEMENHUB)

Indonesia-Malaysia Perkuat Keselamatan Udara Lewat Evaluasi Navigasi

8 Desember 2024
Arsip Foto - Kepala BPPMHKP KKP Ishartini diwawancara awak media terkait Kinerja Semester I KKP, di Jakarta, Selasa (30/7/2024). DOC: (ANTARA/Harianto)

IMB Forum 2024, Ajang Promosi Perikanan Berkelanjutan Indonesia

8 Desember 2024
WNI yang telah menyelesaikan proses hukum di Malaysia berada di kapal cepat mengikuti pemulangan melalui Pelabuhan Stulang Laut Malaysia di Johor Bahru, Malaysia, Kamis (14/11/2024). Sebanyak 105 WNI mengikuti pemulangan bermartabat yang difasilitasi KJRI Johor Bahru dengan kapal cepat menuju pelabuhan di Tanjung Pinang, Kepualauan Riau DOC: (ANTARA/VIRNA P SETYORINI)

Pemerintah RI Gencarkan Pemulangan WNI Bermasalah di Luar Negeri

8 Desember 2024
Kantor Disdukcapil Batam. DOC: (ANTARA/AMANDINENADJA)

Disdukcapil Batam Pastikan Hak WNI dalam Pernikahan Campur dengan WNA

8 Desember 2024

Profil KabarMalaysia

  • Tentang Kami
  • pemberitaan, media siber
  • privacy poilcy, kebijakan privasi
  • Hubungi Kami

Rubrik Dan Saluran

  • Global
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Komunitas
  • Olahraga
  • Pariwisata
  • Pendidikan

Ikuti Kami di

Facebook Twitter Instagram Youtube

Hubungi Kami

Menara Caraka (Ex. CoHive 101) Mega Kuningan. Lantai 6

Kawasan Mega Kuningan, Jl. Mega Kuningan Barat Blok E No.4.7, RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

© 2023 KabarMalaysia.com - Managed By PT. Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • Global
  • Ekonomi
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Komunitas

© 2023 KabarMalaysia.com - Managed By PT. Kabar Grup Indonesia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In